Sekilas.co.id – Wajah Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka (ASR), tampak memerah saat melangkah menyusuri lorong-lorong SMKN 2 Kendari, Rabu (29/4). Niat hati melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memantau kualitas pendidikan, jenderal purnawirawan bintang dua ini justru mendapati pemandangan yang jauh dari kata ideal.
Yang ditemui dalam sidak tersebut bukan hanya soal kualitaspendidikan. Sang nahkoda Sultra justru menemukan rendahnya kedisiplinan dan manajemen sekolah yang kedodoran. Satu per satu pintu ruang kelas dibuka. Namun, suasana di dalam ruangan tampak lengang. Di salah satu kelas, Gubernur tertegun mendapati deretan bangku kosong. Dari belasan siswa yang terdaftar, hanya empat orang yang menampakkan batang hidungnya.
“Ini berapa muridnya? Kok yang hadir cuma empat orang?” tanya Andi Sumangerukka.
Pihak sekolah sempat berdalih bahwa sebagian siswa sedang mengikuti pelajaran olahraga di lapangan. Namun, alasan itu seolah rontok saat Gubernur bergeser ke kelas lain. Di sana, dari 26 siswa yang seharusnya duduk di bangku kelas, hanya 11 orang yang hadir. Ironisnya, proses belajar mengajar tetap berlangsung di tengah banyaknya kursi tak bertuan.
Kedisiplinan bukan satu-satunya hal yang mencoreng wajah SMKN 2 Kendari siang itu. Mantan Pangdam XIV/Hasanuddin ini kembali dibuat geleng-geleng kepala saat melihat sejumlah siswa mengikuti pelajaran tanpa alas kaki yang semestinya. Beberapa siswa terlihat hanya mengenakan sandal jepit di dalam kelas.
Saat diinterogasi langsung oleh Gubernur, salah seorang siswa mengaku terpaksa bersandal karena sepatunya sudah rusak parah dan tak mampu membeli baru. Ada pula siswa yang mengaku meminjamkan sepatunya kepada teman secara bergantian demi bisa tetap bersekolah.
Melihat fakta di lapangan, Andi Sumangerukka tak tinggal diam. Ia langsung melayangkan teguran keras kepada kepala sekolah dan para guru yang hadir. Baginya, pengelolaan sekolah telah gagal dalam membentuk karakter dan kedisiplinan siswa.
“Kepala sekolah dan guru, ini tidak benar. Banyak kelas kosong, siswa tidak disiplin. Pendidikan tidak bisa maju kalau manajemennya seperti ini,” tegas Andi Sumangerukka di hadapan jajaran pendidik.
Meski dikenal tegas dan berdisiplin tinggi khas militer, sisi humanis ASR tetap muncul di tengah suasana tegang tersebut. Merasa prihatin mendengar alasan siswa yang bersandal karena faktor ekonomi, Gubernur spontan merogoh kocek pribadinya.
Ia memberikan bantuan dana tunai langsung kepada para siswa yang tidak memiliki sepatu layak agar mereka bisa segera membeli fasilitas sekolah yang memadai. Baginya, kemiskinan tidak boleh menjadi alasan bagi siswa untuk kehilangan martabat dan semangat belajar di sekolah.
Sebelum meninggalkan lokasi, Gubernur meminta kejadian di SMKN 2 Kendari menjadi alarm keras bagi seluruh sekolah di Bumi Anoa. Ia menekankan bahwa kedisiplinan adalah harga mati dalam dunia pendidikan, dan para tenaga pendidik wajib menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah sekolah.
“Ini jadi evaluasi besar. Saya tidak mau lagi melihat ada sekolah yang pengelolaannya semrawut. Fasilitas dan kedisiplinan harus sejalan agar kualitas SDM kita bisa bersaing,” pungkasnya.











