Sekilas.co.id – Di bawah langit Buton Selatan (Busel) yang mulai merona jingga, sebuah perjalanan bukan sekadar tentang jarak yang ditempuh, melainkan tentang hati yang terpanggil. Jumat (6/3/2026), langkah kaki Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, menapak lembut di tanah Buton Selatan. Bukan sekadar kunjungan formalitas seorang pejabat, melainkan sebuah kepulangan jiwa dalam bingkai Safari Ramadan yang penuh khidmat.
Di Rumah Jabatan Bupati, suasana hangat seketika menyeruak. Di sana, sang purnawirawan jenderal bintang dua itu tidak hadir dengan sekat protokol yang kaku, melainkan datang sebagai sosok ayah, sahabat, sekaligus pemimpin yang ingin merasakan langsung denyut nadi masyarakat di wilayah kepulauan.
*Cahaya di Sudut Gelap, Sembako dan Harapan yang Menyala
Bulan suci bagi Andi Sumangerukka adalah panggung untuk memanifestasikan kepedulian. Tak sekadar kata-kata manis di balik podium, ia turun membawa buah tangan yang nyata. Sebanyak 150 paket sembako diserahkan secara pribadi—sebuah gestur kecil namun mendalam tentang bagaimana seorang pemimpin mencoba meringankan beban di dapur-dapur warga.
Namun, kejutan tak berhenti di sana. Harapan besar ikut menyala melalui program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Sebanyak 213 sambungan rumah tangga kini siap menerangi malam-malam warga Buton Selatan yang selama ini mungkin hanya berteman pelita redup. Ini adalah bagian dari ikhtiar besar sang Gubernur untuk mengusir gelap dari 5.905 rumah tangga di seluruh penjuru Sulawesi Tenggara.
“Ramadan adalah cermin kejujuran, kesabaran, dan kepedulian sosial kita,” ujar Andi Sumangerukka dengan nada suara yang tenang namun berwibawa. Baginya, setiap sambungan listrik yang terpasang adalah simbol harapan yang tidak boleh padam di pelosok negeri.
*Kejujuran Seorang Pemimpin: Memohon Maaf di Balik Keterbatasan
Ada momen haru yang sempat menyelinap dalam sambutannya. Di tengah riuh rendah apresiasi, Andi Sumangerukka justru berdiri dengan kerendahan hati yang luar biasa. Ia tak segan memohon maaf kepada masyarakat jika dalam setahun kepemimpinannya, masih ada celah kekurangan—terutama pada layanan pendidikan dan kesehatan di wilayah terpencil.
Ia jujur mengakui bahwa kebijakan pembangunan harus meniti jalan setapak di tengah keterbatasan fiskal dan efisiensi anggaran. Sebuah kejujuran yang jarang ditemukan, namun justru mempertebal kepercayaan publik bahwa pemimpinnya adalah sosok yang realistis dan transparan. Safari itu mencapai puncaknya bukan saat bantuan diserahkan, melainkan saat dahi bersentuh dengan sajadah yang sama. Di Masjid Agung Nurul Fitri Batauga, sang Gubernur membaur dalam saf yang rapat bersama masyarakat untuk menunaikan salat Tarawih.
Di sana, di bawah kubah masjid yang megah, tidak ada lagi sekat antara jenderal dan warga biasa. Yang ada hanyalah kebersamaan yang utuh, doa yang melangit, dan tekad untuk membawa Sulawesi Tenggara menuju arah yang lebih cerah. Perjalanan di Buton Selatan mungkin berakhir malam itu, namun jejak kepedulian Andi Sumangerukka dipastikan akan terus membekas di hati warga—seperti cahaya listrik yang kini mulai berpijar di rumah-rumah mereka.
Penulis: Tim redaksi Sekilas.co.id










