Sekilas.co.id – Ada yang berbeda di koridor Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Baubau, Jumat (6/3/2026) pagi itu. Bukan sekadar derap langkah sepatu yang menggema, melainkan hadirnya sebuah harapan baru yang dibawa langsung oleh orang nomor satu di Bumi Anoa, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka.
Di balik seragam dinasnya, tersimpan ketulusan seorang pemimpin yang tak ingin rakyatnya “sakit” dalam ketidakpastian. Kunjungan kerja ini bukan sekadar seremoni gunting pita atau tinjauan dokumen di atas meja, melainkan sebuah dialog hati antara pemimpin dan rakyatnya yang tengah berjuang untuk sembuh.
Langkah Sang Gubernur menyisir sudut-sudut krusial rumah sakit. Mulai dari ruang tindakan yang penuh urgensi, ruang ICU yang sunyi dalam doa, hingga poli paru tempat napas-napas harapan dipertaruhkan. Andi Sumangerukka tak hanya lewat. Ia berhenti. Ia menyapa, dan ia mendengar.
Dialog-dialog kecil dengan tenaga medis dan sapaan hangat kepada para pasien menjadi potret betapa sektor kesehatan bagi beliau bukan sekadar statistik angka, melainkan urusan kemanusiaan yang paling mendasar.
“Kesehatan adalah hak yang tak boleh ditawar. Di wilayah kepulauan ini, fasilitas medis harus menjadi benteng yang kokoh, bukan sekadar gedung yang berdiri,” tutur Andi Sumangerukka dengan tatapan yang sarat akan komitmen.
*Menaikkan Kelas, Mewujudkan Keadilan Pelayanan
Visi besar Andi Sumangerukka untuk RSUD Baubau sangat terang benderang. Beliau tidak ingin rumah sakit ini terus terjebak dalam keterbatasan. Rencana besar telah dicanangkan. Ia Mendorong kenaikan status RSUD Baubau dari tipe C menjadi tipe B.
Ini bukan ambisi kosong. Sang Gubernur telah menyiapkan langkah strategis untuk mengetuk pintu Kementerian Kesehatan RI, memastikan fasilitas penunjang dan kebutuhan medis terpenuhi. Bahkan, demi perluasan layanan, ia telah membuka peluang pemanfaatan lahan milik Pemerintah Provinsi—sebuah bukti nyata bahwa beliau rela memberikan apa saja demi tegaknya pelayanan kesehatan yang paripurna.
*Pondasi Kepton: Menyiapkan Rumah yang Layak Sebelum Berpisah
Ada makna filosofis yang lebih dalam di balik penguatan RSUD Baubau ini. Andi Sumangerukka menyadari betul arus besar aspirasi pemekaran Provinsi Kepulauan Buton (Kepton). Namun, bagi sang jenderal, pemekaran bukan sekadar membagi wilayah di atas peta, melainkan menyiapkan kemandirian bagi rakyatnya.
Beliau ingin, jika kelak Kepton berdiri sebagai daerah otonomi baru, infrastruktur pelayanan dasarnya—terutama rumah sakit rujukan—sudah berdiri tegak dan siap melayani. Ia sedang membangun “pondasi rumah” yang kuat agar saat rakyat Buton Selatan, Baubau, dan sekitarnya mandiri. Mereka (Masyarakat Kepulauan Buton) tidak lagi merasa asing di tanah sendiri karena kurangnya fasilitas medis.
Kunjungan pagi itu diakhiri dengan sebuah janji yang tersirat. Bahwa, selama napas pengabdian masih ada, tak boleh ada warga di pelosok kepulauan yang merasa terabaikan dalam sakitnya. Andi Sumangerukka telah membuktikan, bahwa ketegasan seorang jenderal bisa bersanding manis dengan kelembutan hati seorang pelayan rakyat.
Penulis: tim redaksi sekilas.co.id










