Sekilas.co.id — Kontingen Tapak Suci Sulawesi Tenggara datang ke Bandung Open Tournament Pencak Silat 2026 dengan kekuatan yang jauh dari gemuk, lima atlet dan satu pelatih. Mereka pulang membawa lima medali emas dan dua medali perunggu.
Capaian itu sekaligus memperlihatkan sesuatu yang kerap luput dalam perbincangan olahraga, prestasi tidak selalu ditentukan oleh besarnya jumlah kontingen, tetapi oleh kualitas atlet, pembinaan, keberanian bertanding, dan dukungan yang menyertainya.
Medali emas kelima sekaligus penutup untuk kontingen Sultra dipersembahkan Risnawati, mahasiswa Pendidikan Olahraga STKIP Pelita Nusantara Buton, setelah menjadi juara pada nomor tanding kelas C putri dewasa. Kontingen Tapak Suci Sultra meraih lima emas dan dua perunggu pada Bandung Open Tournament yang berlangsung di GOR Bandung, Jawa Barat, 26–30 Agustus 2026.
Sebelumnya, empat emas telah dikumpulkan melalui penampilan Nur Khalifah Rozalddin, Najwa Salsabillah Radjab, Nur Khadijah Idsa, dan Nur Khafifah Rozalddin.
Lima pesilat yang menjadi tumpuan Tapak Suci Sultra tersebut adalah, Nur Khalifah Rozalddin, nomor Tunggal Putri Pra Remaja, SMPN 16 Buton. Najwa Salsabillah Radjab, nomor Tunggal Putri Usia Dini 2, SDN 2 Baubau. Nur Khadijah Idsa, nomor Tunggal Putri Remaja, SMAN 2 Kapontori.
Nur Khafifah Rozalddin, nomor Tunggal Putri Dewasa, Universitas Muhammadiyah Buton, mahasiswa PGSD. Dan Risnawati, nomor Tanding Kelas C Putri Dewasa, STKIP Pelita Nusantara Buton, mahasiswa Pendidikan Olahraga.

Nur Khalifah menjadi penyumbang emas pertama Sultra. Ia tampil pada nomor Tunggal Putri Pra Remaja dan mengalahkan sejumlah pesilat dari berbagai perguruan dan klub di Jawa Barat.
Sehari kemudian, Najwa menyusul. Pesilat muda dari SDN 2 Baubau itu meraih emas pada kategori Prestasi Tunggal Tangan Kosong Putri Usia Dini 2.
Pada hari ketiga, Nur Khadijah dan Nur Khafifah menambah dua emas. Saat itu, Sultra sudah mengoleksi empat emas dan dua perunggu. Risnawati kemudian memastikan target lima emas itu benar-benar terwujud.
Bandung Open Tournament 2026 bukan arena yang dibuat sekadar untuk membagikan medali. IPSI Kota Bandung menyebut kejuaraan tersebut sebagai ajang evaluasi pembinaan sekaligus wadah pembinaan prestasi bagi atlet pemula maupun atlet jalur prestasi. Kejuaraan digelar 26–30 Agustus 2026 di GOR Bandung.
Karena itu, lima emas dari lima atlet Sultra layak dibaca lebih jauh. Ini bukan sekadar cerita tentang kemenangan. Ini cerita tentang efisiensi pembinaan.
Lima atlet dikirim. Lima atlet memperoleh emas. Dua di antaranya bahkan juga tercatat meraih perunggu pada nomor lainnya.
Artinya, ada atlet yang mampu menghasilkan prestasi lebih dari satu nomor. Atlet itu adalah Nur Khadijah dan Nur Khafifah masing-masing memperoleh emas sekaligus perunggu.
“Sedikit, tetapi tepat sasaran,” kata Ketua IPSI Sultra, Sahabuddin
Pria yang karib disapa Budi kni pun mengatakan bahwa prestasi yang diraih itu tidak terlapas dari dukungan dari Orang Tua. Sahabuddin, SE., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada orang tua dan berbagai pihak yang ikut menopang keberangkatan atlet.
“Dukungan tersebut mencakup kebutuhan akomodasi dan transportasi menuju Bandung Open Tournament. Peran orang tua dan komunitas pencak silat dari Buton Raya dan Baubau menjadi bagian penting dari perjalanan para atlet,” ungkapnya.
Ini menunjukkan bahwa medali tidak pernah jatuh begitu saja dari langit. Ada latihan. Ada keberanian. Ada pengorbanan. Ada orang tua yang menopang. Ada pelatih yang membentuk. Ada organisasi yang memberi kepercayaan.
Meski begitu Sahbuddin mengatakan, euforia lima emas tidak boleh membuat pembinaan berhenti pada seremoni. “Prestasi 5 emas dan 2 perunggu menjadi pecut untuk lebih lagi dalam mengembangkan atlet-atlet silat. Dan Sultra punya potensi besar di Silat,” terangnya.
“Mulai dari menemukan bakat, melatih secara teratur, menyediakan kompetisi, menjaga keberlanjutan pelatih, mendukung pendidikan atlet, serta memastikan atlet mempunyai kesempatan bertanding yang cukup menjadi hal yang harus diperhatikan,” imbuhnya.
Ia juga mengatakan bahwa, Bandung Open sendiri dirancang sebagai ruang evaluasi hasil pembinaan dan menambah jam terbang atlet. Maka lima emas Tapak Suci Sultra semestinya tidak diperlakukan sebagai titik akhir.
“Ia harus menjadi bahan evaluasi. Apa yang sudah benar dan apa yang harus diperbaiki,” ungkapnya.
Budi juga menegaskan bahwa, keberhasilan tersebut juga mengingatkan pentingnya kualitas pelatih. “Terimakasih untuk tim silat dari Kepulauan baik dari Buton dan Baubau, Buton Raya secara keseluruhan,” ujarnya.
“Untuk sementara, Tapak Suci Sultra boleh menikmati kemenangan. Tetapi setelah tepuk tangan mereda, pekerjaan yang sesungguhnya kembali menunggu, mencetak juara berikutnya,” pungkasnya.






