Sekilas.co.id – Program makan bergizi gratis di Kendari kembali menjadi sorotan. 58 santri dari pondok pesantren Baruga Kota Kendari diduga menjadi “tumbal” Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal itu diketahui, usai 58 santri tersebut mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu makanan yang didistribusikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Kendari Baruga Watubangga, Jumat (18/9/2026).
Para siswa tersebut menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, yakni Puskesmas Lepo-Lepo, Rumah Sakit Dewi Sartika, Puskesmas Ranomeeto, dan RS Bahteramas.
Pukul 21.23 WITA, sebanyak 54 siswa masih menjalani perawatan, sedangkan empat lainnya telah dipulangkan.
Pihak SPPG bersama instansi terkait telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa oleh Laboratorium Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara (Labkes Sultra). Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
Diketahui juga, SPPG tersebut dikelola Yayasan Bina Sultra Abadi dan mulai beroperasi pada 8 Mei 2026. Jumlah penerima manfaat SPPG tercatat sebanyak 2.967 orang, terdiri atas siswa, guru dan tenaga kependidikan, ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.
Menu MBG yang didistribusikan pada Jumat (18/9/2026) terdiri atas, nasi putih, tuna balado, tumis kol wortel, oseng tahu dan
buah kelengkeng.
Keluhan bermula dari menu ikan tuna.
Informasi awal mengenai gangguan kesehatan diterima pihak SPPG pada Jumat sekitar pukul 14.00 WITA.
Saat itu, pihak PIC SD Negeri 92 Kendari melaporkan adanya gejala gatal pada bibir setelah dilakukan uji organoleptik terhadap makanan, khususnya menu ikan tuna.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala SPPG menginstruksikan agar paket MBG tidak dibagikan kepada siswa SD Negeri 92 Kendari.
Pihak SPPG kemudian memutuskan menarik seluruh paket MBG yang masuk dalam distribusi tahap terakhir. Namun, makanan yang telah didistribusikan ke MA Al-Askar Kendari dan MTs Al-Askar Kendari sudah terlanjur dikonsumsi oleh para siswa.
Pihak SPPG selanjutnya meminta PIC sekolah melakukan pemantauan terhadap siswa. Jika ditemukan gejala gangguan kesehatan, pihak sekolah diminta segera melaporkannya kepada SPPG.
Sekitar pukul 14.30 WITA, PIC MA Al-Askar Kendari dan MTs Al-Askar Kendari melaporkan adanya siswa yang mengalami pusing dan mual setelah mengonsumsi MBG.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala SPPG, Pengawas Gizi dan Asisten Lapangan langsung menjemput siswa yang bersangkutan untuk dibawa ke Puskesmas Lepo-Lepo.
Setelah itu, laporan mengenai siswa lain yang mengalami keluhan kesehatan terus diterima. Para siswa kemudian dibawa ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan.
Para korban pun dirawat diberbagai tempat diantaranya, Puskesmas Lepo-Lepo 23 orang, Rumah Sakit Dewi Sartika 20 orang. Kemudian, Puskesmas Ranomeeto 7 orang,
RS Bahteramas 4 orang, merupakan rujukan dari Puskesmas Ranomeeto.
Informasi awal mengenai dugaan keracunan tersebut diperoleh dari seorang warga yang ditemui di depan Puskesmas Lepo-Lepo.
Warga itu mengatakan sejumlah santri mulai dilarikan ke puskesmas sejak sore. Menurut informasi yang diterimanya, para santri diduga mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dari program MBG.
“Dari sore ini, dilarikan di sini (Puskesmas), katanya habis makan MBG,” ujar warga yang meminta identitasnya tidak disebutkan.
Kepolisian kini melakukan pengecekan di lokasi untuk mengumpulkan informasi terkait kejadian tersebut.
Kapolresta Kendari Kombes Pol Safi’i Nafsikin membenarkan adanya sejumlah remaja yang sedang mendapatkan perawatan di Puskesmas Lepo-Lepo.
“Sudah, Kapolsek sudah di TKP (Puskesmas),” ujar Safi’i Nafsikin, Jumat malam.
Meski demikian, polisi masih melakukan pengecekan untuk mengetahui penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para santri.
“Masih dicek (penyebabnya), nanti kami infokan ya,” katanya.
Sementara itu baik dari pihak Dinas Kesehatan Kota Kendari masih belum memberikan keterangan terkait kejadian tersebut. atau pun pihak Badan Gizin Nasional Regional Kota Kendari belum memberikan keterangan resmi.
Sedangkan dari pihak Kepala SPPG Sabdi Rasyid jdan Ahli Gizi Yulti Mindiani belum memberikan keterangan saat dihubungi via selulernya.






