Sekilas.co.id – Persaingan memperebutkan kursi Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) periode 2026–2030 berakhir dengan keunggulan Prof. Dr. Ir. Takdir Saili, M.Si. Dalam pemilihan yang digelar Selasa (13/10/2026), Takdir mengantongi 42 suara, unggul jauh dari dua pesaingnya, Prof. Dr. Ida Usman, M.Si., yang memperoleh 18 suara dan Dr. Herman, S.H., LL.M., dengan 13 suara.
Hasil tersebut menempatkan Takdir sebagai kandidat dengan dukungan suara terbanyak dalam pemilihan pimpinan perguruan tinggi negeri di Sulawesi Tenggara itu.
Pemilihan melibatkan unsur Senat UHO dan perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Komposisi suara terdiri atas 65 persen dari unsur senat dan 35 persen dari unsur kementerian.
Berdasarkan data yang disampaikan, total hak suara berjumlah 74, terdiri atas 48 suara senat dan 26 suara kementerian. Namun, satu anggota senat, Prof. Dr. La Niampe, tidak dapat menghadiri pemilihan karena sakit.
Sebelum pemungutan suara dimulai, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. Fauzan, menyampaikan sambutan yang menekankan pentingnya mewujudkan perguruan tinggi yang berdampak bagi masyarakat.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah tuntutan terhadap perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga mampu menghasilkan riset, inovasi, dan lulusan yang berkontribusi nyata bagi pembangunan.
*Tantangan Kampus
Kemenangan Takdir sekaligus membuka babak baru kepemimpinan UHO. Tantangan yang menanti bukan sekadar menjalankan administrasi kampus, melainkan memastikan institusi pendidikan tinggi tersebut mampu meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat penelitian, serta memperluas kontribusi bagi masyarakat.
Dalam dokumen visi, misi, dan program kerja yang dipublikasikan UHO pada tahapan pemilihan sebelumnya, Takdir mengusung gagasan menjadikan UHO sebagai pusat unggulan pendidikan, riset, dan inovasi berbasis kearifan lokal yang berdaya saing global.
Visi tersebut mencakup penguatan kualitas pembelajaran, pengembangan riset dan inovasi, peningkatan kompetensi mahasiswa, pembenahan tata kelola perguruan tinggi, serta pengabdian kepada masyarakat.
Gagasan itu menjadi pekerjaan penting bagi kepemimpinan UHO ke depan. Sebab, capaian perguruan tinggi tidak cukup diukur dari reputasi dan prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuannya menjawab persoalan masyarakat melalui ilmu pengetahuan dan inovasi.
Tantangan lainnya adalah menjaga soliditas sivitas akademika setelah kontestasi berakhir. Perbedaan dukungan selama pemilihan perlu diakhiri dengan konsolidasi agar seluruh potensi kampus dapat diarahkan pada agenda pengembangan institusi.
Dengan perolehan 42 suara, Takdir memiliki modal dukungan terbesar dalam pemilihan kali ini. Namun, kepercayaan tersebut pada akhirnya harus dibuktikan melalui kepemimpinan yang transparan, akuntabel, serta mampu membawa UHO semakin kompetitif.
Meski hasil pemungutan suara telah menempatkan Takdir di posisi teratas, proses penetapan dan pengangkatan rektor tetap harus mengikuti mekanisme serta ketentuan resmi yang berlaku.






