*Bawa Potensi Perikanan, Rumput Laut, dan Ekonomi Biru Sultra ke Forum Internasional di Fuzhou
Sekilas.co.id – Potensi kelautan dan perikanan Sulawesi Tenggara dibawa ke panggung internasional. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara, Ridwan Badallah, mewakili Gubernur Sultra Andi Sumangerukka (ASR) dalam forum Marine Biomedicine and Blue Economic Development pada ajang The World Maritime Equipment Conference 2026 di Fuzhou, Provinsi Fujian, Tiongkok, Jumat (16/10/2026).
Dalam forum tersebut, Ridwan memaparkan potensi ekonomi biru Sultra, mulai dari perikanan tangkap, budidaya rumput laut, hingga peluang pengembangan industri kelautan berbasis inovasi dan teknologi. Paparan itu menjadi kesempatan bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara untuk memperkenalkan sumber daya daerah sekaligus membuka ruang penjajakan kerja sama dengan mitra internasional.
Dalam presentasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, di Bumi Anoa memiliki potensi perikanan tangkap yang besar. Data sementara Dinas Kelautan dan Perikanan Sultra untuk 2025 mencatat potensi tuna mencapai 16.021 ton, cakalang 19.753 ton, dan tongkol 16.489 ton. Sementara itu, potensi budidaya rumput laut tercatat mencapai 212.992 ton.
Angka tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pengembangan ekonomi biru, terutama melalui penguatan industri pengolahan, peningkatan nilai tambah komoditas, perluasan pasar, serta kolaborasi riset dan teknologi.
*Potensi Laut Sultra Jadi Modal Ekonomi Biru
Ridwan Badallah juga mengungkapkan dalam presentasi yang dibawa ke Fuzhou, Sulawesi Tenggara dipaparkan memiliki wilayah kelola laut seluas 47.192,77 kilometer persegi dan garis pantai sepanjang 4.098,18 kilometer. Daerah ini juga memiliki ekosistem mangrove, padang lamun, terumbu karang, serta beragam sumber daya hayati yang dapat mendukung pengembangan ekonomi maritim.
Potensi perikanan Sultra berada dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 713 dan 714. Berdasarkan materi Dinas Kelautan dan Perikanan Sultra, jumlah tangkapan yang diperbolehkan di WPPNRI 713 mencapai 697.730 ton per tahun, sedangkan WPPNRI 714 mencapai 731.486 ton per tahun.
“Komoditas tuna, cakalang, dan tongkol memiliki peluang pasar ekspor ke sejumlah negara, antara lain Jepang, Belanda, Singapura, Australia, Thailand, Polandia, Maldives, Pakistan, Srilangka dan Amerika Serikat,” tutur Ridwan.
Adapun rumput laut tidak hanya berpotensi dipasarkan sebagai bahan mentah. Komoditas ini dapat dikembangkan menjadi produk olahan, seperti agar, karagenan, dan makanan berbahan rumput laut. Pengembangan tersebut membutuhkan dukungan industri pengolahan, teknologi, pengemasan, serta kemitraan usaha.
Dengan pendekatan itu, potensi maritim Sultra tidak berhenti pada besarnya sumber daya alam. Pengembangannya diarahkan untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dan memperluas manfaat bagi masyarakat pesisir.
*Ridwan Bawa Arah Kebijakan Ekonomi Biru ASR
Keikutsertaan Ridwan dalam forum internasional tersebut membawa arah pembangunan Sulawesi Tenggara yang menempatkan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan sebagai salah satu agenda penting.
Dalam materi presentasi, visi ekonomi biru Sultra 2025–2045 diarahkan untuk mewujudkan provinsi ini sebagai pusat ekonomi biru yang berdaya saing, sejahtera, inklusif, dan berkelanjutan.
Pengembangan tersebut dipetakan ke dalam empat wilayah utama berdasarkan karakteristik daerah dan potensi sumber dayanya. Pembagian kawasan ini mencakup wilayah Kolaka–Kolaka Timur–Bombana, Konawe Kepulauan–Konawe Selatan–Kendari–Konawe Utara–Konawe, Buton Tengah–Muna–Muna Barat–Buton Utara, serta Wakatobi–Buton Selatan–Buton–Baubau.
Pemetaan tersebut menjadi dasar untuk mendorong pengembangan sumber daya laut, penguatan infrastruktur, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hilirisasi, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Bagi Sultra, ekonomi biru tidak hanya berbicara mengenai eksploitasi hasil laut, tetapi juga bagaimana sumber daya tersebut dikelola dengan memperhatikan keberlanjutan ekosistem dan kepentingan generasi mendatang.
*Buka Peluang Kolaborasi Internasional
Forum di Fuzhou juga membuka ruang bagi Sulawesi Tenggara untuk menjajaki kerja sama dengan berbagai negara dalam pengembangan sektor maritim. Sejumlah negara yang disebut dalam materi sebagai potensi mitra penjajakan antara lain Singapura, Polandia, Maladewa, Pakistan, dan Sri Lanka.
Peluang kerja sama dapat diarahkan pada pengembangan perikanan, budidaya rumput laut, industri pengolahan hasil laut, riset biomedis kelautan, transfer teknologi, hingga investasi berbasis sumber daya maritim.
Namun, peluang tersebut masih perlu ditindaklanjuti melalui komunikasi antarpihak, identifikasi kebutuhan, serta pembahasan teknis agar dapat berkembang menjadi kerja sama konkret.
Bagi pemerintah daerah, promosi potensi di forum internasional menjadi salah satu langkah untuk memperluas jejaring dan memperkenalkan peluang pengembangan ekonomi Sultra kepada mitra global.
*Dari Kekayaan Alam Menuju Nilai Tambah
Tantangan berikutnya adalah memastikan potensi yang diperkenalkan di forum internasional dapat ditindaklanjuti secara nyata. Ketersediaan sumber daya perlu disertai peningkatan kualitas produksi, penguatan rantai pasok, infrastruktur pengolahan, dukungan teknologi, dan kepastian pengelolaan yang berkelanjutan.
Kehadiran Ridwan Badallah mewakili Gubernur ASR dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan peluang ekonomi biru Sulawesi Tenggara kepada komunitas internasional.
Dengan kekayaan sumber daya kelautan, potensi perikanan tangkap, dan budidaya rumput laut yang besar, Sultra memiliki ruang untuk mengembangkan sektor maritim sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah.
Promosi di panggung dunia menjadi langkah awal. Manfaat bagi masyarakat akan ditentukan oleh tindak lanjut berupa investasi, penguatan industri hilir, transfer pengetahuan, dan kerja sama yang benar-benar terealisasi.






