Sekilas.co.id — Peta persaingan Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Halu Oleo (UHO) periode 2026–2030 mulai mengerucut. Setelah melewati penyaringan Senat UHO, tiga nama kini berada di garis terdepan, Prof. Dr. Ida Usman dengan 15 suara, Prof. Dr. Ir. Takdir Saili dengan 11 suara, dan Dr. H. Herman dengan 10 suara.
Hasil tersebut membuat pertarungan menuju kursi orang nomor satu di kampus terbesar di Sulawesi Tenggara itu memasuki fase yang jauh lebih menentukan. Sebab, keunggulan suara senat belum otomatis menjadi tiket kemenangan.
Pada tahapan berikutnya, konfigurasi suara kementerian akan menjadi bagian penting dalam menentukan siapa yang akhirnya memimpin UHO. Di sinilah pertanyaan besar mulai mengemuka: ke mana arah suara Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Pilrek UHO 2026?.
Pertanyaan itu bukan tanpa latar. Dalam Pilrek UHO periode 2025–2029, suara pada tahap akhir membuat peta persaingan berubah drastis. Prof. Armid akhirnya terpilih dengan 31 suara, hanya unggul satu suara atas Prof. Takdir Saili yang memperoleh 30 suara. Prof. Ruslin berada di posisi berikutnya dengan 13 suara. Pada pemilihan tersebut, unsur kementerian juga ikut memberikan suara.
Data hasil penyaringan tersebut juga telah diberitakan beberapa portal media online sebelumnya. Dari 10 kandidat yang mengikuti proses penyaringan, Ida Usman menjadi peraih suara terbanyak, disusul Takdir Saili dan Herman.
Takdir dan Pelajaran dari Pilrek 2025. Nama Takdir Saili menjadi salah satu figur yang menarik perhatian karena pengalaman Pilrek UHO sebelumnya. Pada 2025, Takdir berada dalam pertarungan tiga besar bersama Armid dan Ruslin. Hasil akhir menunjukkan Armid memperoleh 31 suara, Takdir 30 suara, sedangkan Ruslin 13 suara. Dengan demikian, pengalaman satu suara tersebut menjadi bagian dari sejarah kontestasi Pilrek UHO yang sangat ketat.
Karena itu, ketika nama Takdir kembali masuk tiga besar pada 2026, pertanyaannya bukan sekadar apakah ia mampu mempertahankan dukungan dari Senat. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah pengalaman, jejaring, dan posisi politik-akademiknya mampu mengantarkan kembali dirinya menjadi kandidat yang diperhitungkan ketika suara kementerian ikut menentukan.
Namun, perlu dicatat, narasi bahwa Takdir akan kembali memperoleh dukungan kementerian pada Pilrek 2026 belum dapat dipastikan. Belum ada keputusan atau pernyataan resmi mengenai arah suara Menteri untuk kontestasi tahun ini. Dengan kata lain, sejarah Pilrek 2025 boleh menjadi cermin, tetapi tidak otomatis menjadi peta jalan Pilrek 2026.
Ida Usman datang dengan modal angka. Di sisi lain, Prof. Ida Usman tidak bisa ditempatkan sebagai sekadar nama pelengkap.
Ia justru datang sebagai pemilik modal suara senat terbesar pada tahap penyaringan 2026. Lima belas suara yang dikantongi Ida menjadi pesan politik-akademik yang cukup kuat. Setidaknya, ia memiliki fondasi dukungan internal yang lebih besar dibanding dua rivalnya.
Dalam kontestasi seperti Pilrek, angka bukan satu-satunya ukuran. Namun angka tetap menjadi bahasa paling konkret untuk membaca kekuatan awal seorang kandidat. Ida kini memiliki pekerjaan besar yakni, mempertahankan keunggulan tersebut ketika pertarungan memasuki babak yang lebih kompleks.
Sebab, empat suara yang memisahkan dirinya dengan Takdir dan lima suara dengan Herman belum menjamin apa pun. Pilrek belum selesai hanya karena seseorang unggul pada tahap penyaringan.
Nama Dr. Herman juga memiliki cerita tersendiri. Ia sebelumnya dipercaya pemerintah sebagai Plt. Rektor UHO setelah wafatnya Prof. Armid pada 23 Agustus 2025. Melalui surat perintah Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 096/M/KP.06.00/2025, Herman ditetapkan sebagai Plt. Rektor mulai 25 Agustus 2025 sampai dilantiknya rektor definitif.
Posisi tersebut kemudian membuat langkah Herman dalam Pilrek 2026 menjadi sorotan. Pada April 2026, Herman pernah menyatakan dirinya tidak menyatakan maju dalam Pilrek dan menegaskan komitmen menjaga netralitas proses pemilihan.
Namun, pada 2 Juni 2026, namanya resmi didaftarkan sebagai bakal calon rektor. Herman kemudian mengundurkan diri dari jabatan Plt. Rektor untuk menjaga netralitas proses Pilrek. Pemerintah pusat selanjutnya menunjuk Prof. Khairul Munadi sebagai Plt. Rektor UHO untuk melanjutkan kepemimpinan sementara dan mengawal proses menuju rektor definitif.
Kini, Herman justru berhasil masuk tiga besar dengan 10 suara. Artinya, perjalanan Herman dari posisi pelaksana kepemimpinan menuju kandidat definitif belum selesai. Ia masih memiliki ruang untuk mengonsolidasikan dukungan sebelum suara akhir ditentukan.
Menteri, bukan sekadar angka. Di sinilah Pilrek UHO 2026 menjadi menarik. Suara menteri bukan sekadar tambahan angka. Ia berpotensi menjadi pengubah konfigurasi.
Sejarah Pilrek 2025 menunjukkan betapa tipisnya batas antara kemenangan dan kekalahan. Armid akhirnya unggul satu suara dari Takdir. Bahkan pada tahap penyaringan senat, Armid memperoleh 32 suara, Ruslin 11 suara, dan Takdir hanya 4 suara. Namun pada tahap akhir, konfigurasi suara berubah sehingga Takdir mampu mencapai 30 suara.
Fakta tersebut memberikan satu pelajaran penting. Peta suara pada tahap penyaringan tidak selalu identik dengan hasil akhir.
Karena itu, siapa pun yang kini merasa sudah berada di posisi aman sebenarnya belum boleh lengah. Ida memang unggul. Takdir punya pengalaman. Herman memiliki pengalaman memimpin UHO sebagai Plt.
Tetapi ketiganya masih harus melewati satu gerbang penting sebelum kursi rektor benar-benar berpindah tangan. UHO Tidak Membutuhkan Sekadar Pemenang Pilrek UHO semestinya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang menang. Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang paling mampu membawa UHO naik kelas.
UHO memiliki pekerjaan rumah yang jauh lebih besar daripada sekadar memenangkan sebuah kontestasi internal. Kampus ini harus memperkuat reputasi akademik, riset, inovasi, jejaring internasional, transformasi digital, serta kualitas sumber daya manusia.
Dalam proses Pilrek 2026, panitia sendiri menyatakan seluruh tahapan diarahkan berlangsung secara tertib, transparan, akuntabel, dan sesuai ketentuan yang berlaku. Sepuluh bakal calon sebelumnya dinyatakan memenuhi persyaratan administrasi. Karena itu, suara senat maupun suara kementerian semestinya dibaca sebagai instrumen untuk memilih pemimpin akademik, bukan sekadar memenangkan figur.
Kursi rektor bukan trofi. Ia adalah kemudi. Siapa pun yang nanti memperoleh amanah harus mampu membawa UHO tidak hanya menjadi kampus yang besar di Sulawesi Tenggara, tetapi juga semakin kuat secara nasional dan berani menembus panggung akademik internasional.
Suara Menteri Kesiapa?.
Pertanyaan itu kini menjadi bagian paling menarik dari drama Pilrek UHO 2026. Apakah keunggulan Ida Usman akan bertahan hingga putaran akhir?. Apakah Takdir Saili mampu mengulang daya kejut Pilrek 2025?. Atau Herman justru menjadi kuda hitam yang mampu membalikkan peta?.
Jawabannya belum tersedia.
Yang sudah tersedia baru angka: 15, 11, dan 10.
Selebihnya adalah pertarungan visi, rekam jejak, legitimasi akademik, kemampuan membangun konsolidasi, serta keputusan suara pada tahap akhir. Dan ketika suara terakhir dijatuhkan, sejarah Pilrek UHO kembali akan membuktikan satu hal yakni, dalam pertarungan yang ketat, selisih angka bisa kecil, tetapi dampaknya bisa menentukan arah sebuah universitas selama bertahun-tahun.







