Menu

Mode Gelap
 

Bisnis · 13 Aug 2026 10:22 WIB ·

Kredit Produktif, Ambisi Bank Sultra Jadi Penggerak Ekonomi Sultra


Kredit Produktif, Ambisi Bank Sultra Jadi Penggerak Ekonomi Sultra Perbesar

Sekilas.co.id – Ambisi PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara (Bank Sultra) untuk menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah mulai terlihat dari arah ekspansi pembiayaannya. Bukan semata mengejar pertumbuhan kredit, bank milik pemerintah daerah itu mengarahkan pembiayaan ke sektor yang bersentuhan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta pertanian melalui pembiayaan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan).

Berdasarkan data kinerja per 31 Juli 2026 yang disampaikan Bank Sultra, outstanding kredit UMKM tercatat Rp1.039.238.169.475. Sementara outstanding KUR mencapai Rp352.543.439.206.

Jika kedua portofolio tersebut dijumlahkan, pembiayaan UMKM dan KUR mencapai sekitar Rp1,39 triliun. Di sektor pertanian, Bank Sultra juga mencatat outstanding pembiayaan Alsintan sebesar Rp24.801.805.996 dengan 51 debitur.

Angka-angka tersebut memperlihatkan satu arah kebijakan yang cukup jelas: kredit tidak hanya ditempatkan sebagai instrumen bisnis perbankan, tetapi diarahkan untuk masuk ke sektor-sektor yang menjadi bagian penting dari denyut ekonomi Sulawesi Tenggara.

Bank Sultra sendiri memiliki produk Kredit Alsintan yang ditujukan untuk mendukung modernisasi pertanian. Dalam skema tersebut, pembiayaan dapat digunakan untuk pengadaan alat dan mesin pertanian, dengan tujuan meningkatkan produktivitas, efisiensi biaya dan waktu produksi, sekaligus mendukung ketahanan pangan.

Langkah itu bukan sepenuhnya baru. Pada 2025, Bank Sultra telah merealisasikan KUR Alsintan senilai Rp17 miliar untuk 26 unit alat pertanian modern yang tersebar di Konawe, Konawe Utara, Kolaka, Kolaka Timur, dan Bombana. Bank Sultra juga menyatakan akan meningkatkan penyaluran KUR pada 2026, khususnya untuk UMKM dan sektor pertanian.

Direktur Utama Bank Sultra, Andri Permana Diputra Abubakar, menegaskan bahwa ekspansi pembiayaan tersebut merupakan bagian dari visi perusahaan untuk mengambil peran lebih besar dalam perekonomian Sulawesi Tenggara.

“Pencapaian penyaluran kredit UMKM dan KUR yang signifikan ini, serta dukungan nyata kami pada sektor pertanian melalui pembiayaan Alsintan ke pelosok daerah, adalah bukti konkret dari komitmen Bank Sultra.” tuturnya.

Menurut Andri, Bank Sultra tidak ingin berhenti pada posisi sebagai lembaga yang menyalurkan kredit. Bank daerah tersebut ingin memastikan pelaku UMKM dan petani memiliki ruang untuk tumbuh, berkembang, dan meningkatkan daya saing.

Gagasan itu penting karena karakter ekonomi Sulawesi Tenggara tidak hanya bertumpu pada sektor industri berskala besar. Di tingkat masyarakat, perdagangan, pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan dan UMKM tetap menjadi bagian dari ekosistem ekonomi daerah.

Data yang pernah disampaikan Bank Sultra menunjukkan bahwa penyaluran KUR bank tersebut tersebar pada sektor perdagangan atau UMKM, pertanian, perikanan, peternakan, dan perkebunan. Pada 2025, total penyaluran KUR Bank Sultra di berbagai sektor mencapai Rp201 miliar kepada sekitar 2.000 debitur.

Di sinilah posisi Bank Sultra menjadi menarik. Bank daerah tidak cukup hanya menjadi tempat masyarakat menyimpan uang. Ia dituntut menjadi jembatan yang mengubah dana masyarakat menjadi aktivitas ekonomi yang produktif.

Namun, besarnya angka outstanding kredit bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Kualitas pembiayaan dan dampaknya terhadap penerima menjadi pekerjaan berikutnya. Sebab, kredit yang besar tetapi tidak menghasilkan peningkatan kapasitas usaha justru dapat menjadi beban bagi pelaku usaha maupun bank.

Karena itu, Bank Sultra juga menempatkan pembinaan dan pendampingan UMKM sebagai bagian dari strategi. Bersama pemerintah daerah dan instansi pembina, pendampingan diarahkan pada peningkatan kapasitas manajerial, literasi keuangan, serta daya saing produk agar pelaku UMKM dapat naik kelas.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kondisi di lapangan. Kanwil Ditjen Perbendaharaan Sulawesi Tenggara pada Juli 2026 juga menyoroti masih adanya kendala pelaku UMKM dalam mengakses pembiayaan, antara lain keterbatasan informasi, legalitas usaha, dan akses terhadap layanan perbankan. Artinya, tantangan Bank Sultra ke depan bukan sekadar berapa besar kredit yang disalurkan, melainkan seberapa jauh pembiayaan itu mengubah kapasitas ekonomi masyarakat.

Ambisi memperbesar peran di sektor produktif juga diikuti penguatan struktur internal. Bank Sultra melakukan pemekaran fungsi perkreditan yang sebelumnya hanya ditangani satu divisi menjadi tiga divisi utama.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa ekspansi kredit membutuhkan mesin organisasi yang lebih spesifik. Segmentasi pembiayaan tidak lagi bisa ditangani dengan pendekatan yang seragam karena karakter debitur mikro, komersial, korporasi, hingga kelembagaan memiliki kebutuhan dan tingkat risiko yang berbeda.

Di sisi lain, kinerja Bank Sultra pada 2025 menunjukkan fondasi yang relatif kuat. Bank tersebut membukukan laba bersih Rp419,6 miliar, dengan pertumbuhan Kredit Modal Kerja 23,50 persen dan Kredit Investasi 37,16 persen. Pada periode yang sama, NPL Gross tercatat 0,89 persen.

Capaian tersebut memberikan ruang bagi Bank Sultra untuk memperluas peran pembiayaan produktif, dengan tetap menjaga kualitas kredit dan manajemen risiko. Ambisi menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi pada akhirnya akan diuji bukan di ruang rapat, melainkan di lapangan.

Ujian itu ada pada warung kecil yang mampu memperbesar usahanya setelah memperoleh modal. Pada petani yang mampu meningkatkan produktivitas karena memiliki akses terhadap alat pertanian. Pada pelaku usaha yang mampu memperluas pasar karena mendapatkan pendampingan. Dan pada masyarakat di wilayah yang sebelumnya sulit memperoleh layanan keuangan.

Bank Sultra juga telah memperluas akses layanan melalui ANOALink, layanan Laku Pandai yang memungkinkan masyarakat melakukan transaksi perbankan melalui agen tanpa harus datang ke kantor cabang. Inovasi tersebut ditujukan untuk memperluas jangkauan layanan hingga wilayah pelosok Sulawesi Tenggara. Jika pembiayaan produktif adalah mesinnya, maka akses keuangan, pendampingan, digitalisasi, dan manajemen risiko adalah roda yang membuat mesin itu bergerak.

Karena itu, angka sekitar Rp1,39 triliun pembiayaan UMKM dan KUR per Juli 2026 patut dibaca bukan sekadar sebagai capaian neraca. Angka tersebut merupakan ukuran dari seberapa besar Bank Sultra sedang mencoba menempatkan dirinya di tengah arus ekonomi masyarakat.

Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap rupiah pembiayaan benar-benar menjadi nilai tambah, usaha tumbuh, produksi meningkat, lapangan ekonomi terbuka, dan kesejahteraan masyarakat bergerak naik.

Di titik itulah Bank Sultra tidak sekadar menjadi bank milik daerah. Ia dituntut menjadi urat nadi pembiayaan ekonomi Sulawesi Tenggara, mengalirkan modal dari pusat-pusat keuangan menuju denyut usaha masyarakat di pelosok Bumi Anoa.

Penulis: ambar sakti

Artikel ini telah dibaca 2401 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kemanusiaan Jadi Alasan Utama Habil Salurkan Bantuan di Muna dan Mubar

22 August 2026 - 17:55 WIB

Kejati Sultra Isyaratkan Perkara Babarina Menyeret Banyak Tersangka

18 August 2026 - 22:36 WIB

Perdalam Penyidikan PT Mining Maju, Kejati Sultra Temukan Dugaan Ore Nikel Ilegal

18 August 2026 - 22:21 WIB

Habil kembali Sumbang 5 Ton Beras di Kampung Leluhur Lawa Raya

18 August 2026 - 19:44 WIB

Habil Marati Salurkan 7,5 Ton Beras untuk 1.500 Warga dan Janda Miskin di Muna-Muna Barat

18 August 2026 - 08:54 WIB

Kekayaan Kolaka Digrogoti Kejati Sultra Amankan 200 Ribu MT Ore Nikel Senilai Rp200 Miliar

13 August 2026 - 18:19 WIB

Trending di Hukrim