Sekilas.co.id – Sektor pariwisata Sulawesi Tenggara kini tengah memasuki babak baru transisi kebijakan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mulai menggeser paradigma pembangunan dari yang sebelumnya bersifat parsial dan terpaku pada satu destinasi tunggal, menuju penguatan fondasi ekosistem yang terintegrasi. Kendari kini diposisikan sebagai simpul utama (hub) yang menggerakkan seluruh urat nadi pariwisata di Bumi Anoa.
Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, Ridwan Badallah, menegaskan bahwa langkah strategis ini diambil untuk menjawab tantangan aksesibilitas dan ketimpangan pengembangan antarwilayah. Selama ini, geliat pariwisata Sultra dianggap terlalu bertumpu pada pesona Kepulauan Wakatobi, namun belum didukung oleh ekosistem pendukung yang merata di daratan maupun kepulauan lainnya.
“Selama ini kita terlalu bergantung pada satu destinasi besar seperti Wakatobi, sementara infrastruktur dan ekosistem pendukungnya di sana belum sepenuhnya kuat untuk memberikan dampak ekonomi luas secara mandiri. Karena itu, kita membangun poros wisata dengan Kendari sebagai simpul utama. Di sini, seluruh infrastruktur, akses penerbangan, hingga pelaku usaha sudah siap,” ujar Ridwan saat ditemui di Kendari, Jumat (13/3/2026).

*Visi Strategis dan Ekosistem Terintegrasi
Pemilihan Kendari sebagai pusat poros bukan sekadar pertimbangan geografis, melainkan realitas kesiapan infrastruktur. Sebagai ibu kota provinsi, Kendari memiliki keunggulan konektivitas udara dan darat yang menjadi prasyarat utama industri pariwisata modern.
Ridwan menggarisbawahi bahwa konsep ini merupakan turunan dari visi besar Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka. Dinas Pariwisata berperan sebagai eksekutor teknis untuk memastikan gagasan besar tersebut mewujud dalam program konkret yang menyentuh pelaku usaha dan masyarakat lokal.
Namun, membangun poros hanyalah satu sisi mata uang. Di sisi lain, pembenahan manajemen destinasi menjadi prioritas yang mendesak. Ridwan menyoroti kondisi beberapa titik ikonik seperti Pulau Bokori, Pantai Batugong, dan Pantai Taipa yang dinilai memerlukan sentuhan profesionalisme, terutama dalam manajemen sampah dan kebersihan lingkungan.
“Kami tidak ingin sekadar menggelar kegiatan besar (event) yang menyerap anggaran miliaran rupiah tanpa ada dampak berkelanjutan. Tanpa ‘rumah besar’ berupa ekosistem yang sehat, efektivitas ekonomi dari sebuah acara tidak akan maksimal. Fokus kita adalah hasil yang nyata bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kesejahteraan warga,” tegasnya.

*Kolaborasi Pentahelix dan Jangkauan Global
Dalam satu bulan terakhir, Dinas Pariwisata Sultra bergerak cepat dengan menginisiasi sedikitnya 26 program prioritas. Pendekatan yang digunakan adalah kolaborasi pentahelix—melibatkan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas kreatif, hingga media.
Langkah konkret yang tengah dipersiapkan antara lain, agenda strategis yakni pelaksanaan harmoni Sultra yang diintegrasikan dengan Festival Bokori dan Hari Dirgantara sebagai magnet baru kunjungan. Wisata Minat Khusus, pengembangan Kendari Water Sport di Teluk Kendari untuk menghidupkan ekonomi pesisir melalui olahraga air. Kemudian, aksesibilitas internasional, penjajakan rute penerbangan langsung (direct flight) dari Jakarta ke Kendari, hingga rencana ambisius membuka rute internasional Guangzhou–Kendari guna menarik pasar Asia Timur.
*Pariwisata Berbasis Perdesaan
Tak hanya mengejar angka kunjungan mancanegara, penguatan di tingkat akar rumput tetap menjadi perhatian. Pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal terus dipacu agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di perkotaan, tetapi juga mengalir hingga ke pelosok desa.
Perbaikan sarana pendukung, seperti armada speed boat dinas untuk potensi PAD hingga sertifikasi lahan di Pulau Bokori, menjadi bagian dari upaya “bersih-bersih” administrasi dan fasilitas.
“Pariwisata tidak bisa dibangun secara terpisah-pisah. Semua harus berbasis ekosistem dan kolaborasi lintas sektor. Kami sangat terbuka untuk berdialog dengan seluruh pemangku kepentingan demi memastikan pariwisata benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi Sulawesi Tenggara ke depan,” pungkas Ridwan.










